Ratna Sarumpaet Resmi di Tahan Polda Metro Jaya

0
156

JAKARTA –  Aktivis Ratna Sarumpaet resmi ditahan pihak Polda Metro Jaya, usai diperiksa 1×24 jam. Hal ini disampaikan langsung oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono.

“Penyidik setelah melakukan penangkapan mulai malam ini, penyidik melakukan penahan untuk 20 hari ke depan,”ujar Argo di Polda Metro, Jumat (5/10/2018).

Penahanan dilakukan dengan pertimbangan subjektif penyidik. Agar Ratna tidak melarikan diri dan menghilangkan barang bukti.

“Penahanan juga sudah ditandatangani,” kata Argo.

Ratna Sarumpaet ditangkap pihak Kepolisian saat berencana terbang ke luar negeri lewat Bandara Soekarno Hatta.

Ratna dijerat Pasal 14 UU Nomor 1 tahun 1946 tentang hukum pidana. Dia juga disangkakan, pasal 28 ayat 2 UU ITE.

Baca : Kabar Dianiaya, Ratna Sarumpaet : Saya Minta Maaf, Saya Telah Berbohong

Ratna dilaporkan oleh sejumlah pihak ke polisi. Hal tersebut menyangkut tentang kebohongan yang telah dia akui tentang pengeroyokan di Bandung, 21 September lalu.

Selain Ratna, sejumlah tokoh dari tim pemenangan Prabowo-Sandiaga Uno juga dilaporkan ke polisi terkait dengan hoax Ratna Sarumpaet. Para tokoh tersebut dikabarkan akan segera dipanggil kepolisian untuk dimintai keterangan.

Baca : La Nyalla: Ada Tiga Pelajaran dari Kasus Ratna Sarumpaet Yang Berbohong

Sementara itu, Ahli hukum pidana Prof Romli Atmasasmita menilai ibunda aktris Atiqah Hasiholan itu bisa juga dijerat pasal menghalangi penyelidikan. Sebab, lanjutnya, Ratna menolak hadir saat mengetahui dirinya dipanggil untuk pemeriksaan di Polda Metro Jaya.

“Dari sisi hukum pidana RS juga dapat dikenakan ancaman melawan penyidik dan menghalangi proses penyidikan pelanggaran pidana. Tidak mau hadir dipanggil penyidik dan pergi ke luar negeri tanpa memberitahu atau meminta izin Polda Metro. Sedangkan, RS mengetahui ada pemanggilan pemeriksaan di Polda Metro,” ujar Prof Romli, Jumat (5/10).

Romli menilai alibi Ratna yang menyebut awalnya dia berbohong hanya untuk internal keluarga tak bisa dijadikan senjata lepas dari jerat hukum.

“Karena kemudian info penganiayaan telah viral ke publik melalui medsos tersebar. Akibatnya, kabar hoaks tersebut sudah tersiar hingga ke luar dan akhirnya meninbulkan keresahan,” pungkas Prof Romli. (Red)