Video Wanita Mabuk Jadi Berita, Diduga Hasil Rekayasa

0
94

Surabaya,007 – Pemberitaan salah satu media online Surabaya yang menggunakan bukti video seorang wanita yang sedang mabuk dan perkelahian diduga hasil rekayasa semata.

Dalam berita tersebut, menyebutkan bahwa salah satu diskotek di Surabaya itu telah memperbolehkan anak dibawah umur dapat masuk dengan bebas dan mengkonsumsi minuman keras. Tak hanya itu, perkelahian yang terjadi pada saat itupun turut dimuat Tanpa ada konfirmasi terkait kebenaran tersebut kepada pihak pengelola.

Ketika beberapa awak media coba mendatangi diskotik tersebut tanpa sepengatahuan pihak pengelola, ternyata pemeriksaan yang di lakukan oleh pihak keamanan yang berjaga didepan pintu cukuplah ketat. Satu persatu pengunjung yang akan masuk area diskotik wajib diperiksa identitasnya (KTP).

Hal ini sangat bertolak belakang dengan pemberitaan salah satu media online tersebut. Anak yang sudah pasti dibawah umur pastilah tidak boleh masuk. Kemudian jika ingin menyelidiki diskotik yang menyediakan minuman beralkhohol bagi para pengunjungnya, semua diskotik pada umumnya menyediakan.

Ketika wartawan Indonesia news menemui Ari, manager diskotik Luxor untuk konfirmasi tentang adanya anak dibawah umur masuk ke Luxor, ia membantah.

” Itu tidak benar, jangankan anak dibawah umur, pengunjung yang bertandang kesini, tidak memiliki identitas baik berupa KTP kami tolak, personil keamanan kami tetap aktif memeriksa identitas para pengunjung tanpa terkecuali, ” ungkap Ari

Lanjut, Ari menambahkan, bahwa anggota keamanan Luxor pernah mengamankan pengunjung yang hendak menggunakan barang terlarang, namun hal tersebut dapat dicegah berkat kesigapan keamanan. Anggota keamanan yang berjaga didepan pintu masuk langsung bertindak untuk menghubungi Polsek Bubutan dan menyerahkan pengunjung tersebut ke Polsek. Dari situ pihak Luxor sudah menegaskan bahwa berita yang menyudutkan tempat ia bekerja sangatlah tendensius. Ditambah lagi berita yang dimuat tanpa konfirmasi kepada pihak pengelola (manager). Seharusnya sebagai wartawan, haruslah balance dalam pemberitaan. Tidak menggiring opini yang tidak baik ke masyarakat.

“Ga ada konfirmasi mas, tau-tau sudah di muat. Kok kayaknya tendensius sekali. Seperti ada kepentingan apa gitu. Kalau dia (wartawan) mau konfirmasi ke kami, pasti kami berikan informasi yang sebenarnya. Jangan kayak gitu, ini sama saja merugikan kami. ” pungkas Ari. (IN/Ud)